Pengikut

Cari Blog Ini

Navigation

Santri Bandel, Karena Semua Milik Allah


Ini kisah yang pemeran utamanya tetap sama, tak lain dan tak bukan adalah si santri  bandel tapi cerdas.. kang Bahlul. Nah, pada waktu itu kang bahlul masih kelas enam ibtida’ di pesantren. Bisa di bilang itu adalah kelas junior, belum kelasnya senior. Dan untuk kelas setingkat itu, umur kang bahlul kala itu tentu masih anak-anak dan sifat bandelnya masih 80%. Factor pertama tentu karena sifat kanak-kanaknya, factor ke dua tentu karena masa kang bahlul di pesantren masih belum lama. Jadi ibarat motor masuk bengkel, baru setengahnya saja yang “normal”, dan yang lain masih dalam proses perbaikan.
Hal tersebut tak di herankan.. karena sebuah pesantren juga memiliki julukan “penjara suci”. Di mana orang-orang yang masuk ke sana  akan di isolasi dari dunia luar dan pengaruh buruk dunia luar, untuk di perbaiki dan di isi dengan ilmu-ilmu agama dan di ajari tentang sopan santun dan juga tata karma. Baik tata karma terhadap orang tua, keluarga, dan juga dalam bermasyarakat. Dan jangan anggap semua yang ada di pesantren itu pasti orang-orang baik dan alim, karena adakalanya sebagaimana sebuah penjara.. pesantren kadang juga di gunakan sebagai “bengkel” yang di gunakan para orang tua untuk memperbaiki kenakalan anak yang sekiranya mereka sendiri sudah kehabisan akal untuk menasehatinya. Tapi tetap ada cerita lucu yang terjadi di pesantren, dan ini adalah salah satunya.
Nah, pada waktu itu hari kamis pagi. Seperti biasa tiap hari kamis pagi ada kultum yang di bawakan oleh pak yai atau biasa di panggil para santri dengan sebutan Abah. Kultum ini sifatnya umum. Artinya di peruntukan untuk semua kalangan santri tanpa memandang kelas dan tingkat pelajaranya. Karena pada kultum biasanya berisi tentang pesan-pesan tausiyah, bukan tentang pelajaran tertentu yang lebih husus, seperti nahwu, shorof, tafsir qur’an, atau ilmu fiqh yang di sesuakan dengan tingkat dan kelas sebagaimana sekolah.
Seperti biasa, selalu ada tiga santri ndablek(bandel) yang pasti datang belakangan. Biasanya mereka baru datang setelah di “razia” oleh para pengurus karena bersembunyi menghindar dari ikut ngaji kultum. Ada yang sembunyi di WC, dapur, atau bahkanada pula santri pura-pura masak atau nyuci. Tapi yang namanya pengurus pondok sudah hapal betul akan siasat seperti itu. Dan tentunya sudah hapal pula tempat persembunyian dan “pelarian” para santri bandel ini. Dan yang biasa menjadi langganan dan mendapat predikat santri “ndablek” level atas adalah tiga orang yang baru dating tadi, yaitu kang bahlul, kamso, dan sodrun.
Dan Abah juga sangat hapal dengan wajah-wajah santri ‘’ternama” ini.
“Haduh.. kalian lagi.. kalian lagi.. apa kalian gak bosan main kucing-kucingan terus sama pengurus”. Kata Abah.
Dan kang bahlul dkk tahu bahwa yang di maksud abah adalah mereka, mereka hanya bias tertunduk tak berani menjawab ataupun memandang abah. Kultum kemudian di mulai. Para santri terlihat mendengarkan tausiyah yang di sampaikan abah dengan serius dan seksama, tak terkecuali kang bahlu, kamso, dan badrun. Mereka juga terlihat husyuk atau mungkin pura-pura husyuk dalam mendengarkan tausiyah yang di sampaikan.
“Nah intinya dari semua yang telah saya sampaikan tadi.. jangan terlalu berat akan dunia. Belajarlah ikhlas akan segala hal. Jika kau kehilangan sesuatu, atau kau ingin memberikan sesuatu, maka kau harus ikhlas. Karena kita harus sadar, bahwa segala sesuatu di dunia ini bukan milik kita. Semua milik Allah, dan dia hanya menitipkanya saja kepada kita. Lalu ketika hal tersebut hilang, kita juga harus ikhlas. Karena pada dasarnya semua milik Allah, dan Allah juga berhak mengambilnya kembali jika DIA ingin. Faham semua?”. Kata abah.
“Faham yaiiiiiii..”. jawab para santri serentak.
“cukup sekian untuk kultum kali ini. Mari kita tutup dengan membaca al-hamdulillah dan do’a bersama. Wabillahit taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..”. kata abah menutup kultum pagi itu. Dan para santri serentak menjawab dengan salam.
Al-kisah.. abah memiliki sebuah pohon jambu yang selalu dirawatnya dengan baik. Pohon jambu itu adalah kesayangan abah, karena buahnya sangat manis dan besar-besar. Pohon yang terletak di belakang rumah abah itu tak pernah ada santri yang berani mengambil buahnya, karena mereka tahu itu adalah pohon yang di sayangi oleh kyai mereka. Malam itu kang bahlul, kamso, dan badrun sedang asik bercengkrama dan bercanda di depan komplek. Karena malam jum’at, mereka tidak memiliki kegiatan. Karena rutinitas ngaji libur di malam jum’at. Hanya beberapa yang mengisinya dengan belajar dan membaca al-qur’an di kamar, selainya biasanya menghabiskan waktu dengan bersantai untuk mendinginkan otak dari rutinitas pondok.
“Kam, kamu ada duit tidak?”. Tanya kang bahlul pada kamso.
“Wah.. uang ku juga sudah mulai nipis lul, Tanya sama si badrun.. mungkin dananya sudah cair dapet kiriman”. Jawab kamso. Dan badrun yang merasa diriny di tuju hanya mengangkat bahu, tanda dia pun sama tak punya uang.
“Aduh, perut ku lapar nih brow, mau ikut aku gak cari makanan?”. Tanya kang bahlul pada dua temanya.
“Weh.. uang aja gak punya lul, mau nyari makanan pakai apa?”. Sanggah badrun.
“Kita petik jambu di belakang rumahnya abah yuk..”. ajak kang bahlul.
“Wah.. wah.. wah.. kamu ini cari perkara ya lul? Mau di marahin sama abah?”. Kata kamso.
“Sudahlah santai saja.. abah gak bakalan marah. Kalau kalian tak berani manjat, nanti biar aku yang manjat. Kalian ngantar aku aja nunggu di bawah. Kalau ada apa-apa, biar aku yang nanggung”. Kata kang bahlul meyakinkan kedua temanya.
Ahirnya karena begitu hebatnya rayuan kang bahlul, kamso dan badrun pun ahirnya nurut. Mereka menuju pohon jambu di belakang rumah abah. Sebagai mana kesepakatan, kang bahlul yang manjat pohon jambu. Sedangkan kamso dan badrun hanya menunggu di bawah. Ternyata abah mendengar akan keberadaan mereka. Karena merasa penasaran siapa yang malam-malam begini ada di belakang rumahnya, abah pun keluar untuk melihatnya dan berniat menegur. Begitu abah melihat ada tiga santri “tersohor” sedang asik memetik buah jambu kesayanganya, abah pun menghampiri mereka dan berniat untuk memarahinya.
“Hai.. sedang apa kalian malam-malam di sini? Mau nyolong jambu ya?”. Tegur abah.
Kontan saja kamso dan badrun di buat terkejut karena mereka tak menyadari kedatangan abah, tak terkecuali kang bahlul. Tapi bukan kang bahlul namanya kalau tidak mengeluarkan ilmu “mbondet” alias ilmu ruwet meruwetkan. Hehehe.. dengan berusaha santai, kang bahlul pun menjawab..
“Ma’af bah, saya tidak mencuri, tapi minta..”. jawab kang bahlul.
“Minta? Memangnya kamu sudah bilang sama pemiliknya? Ini kan pohon jambu punya saya, kamu belum minta izin sama saya”. Kata abah berusaha sabar.
“Eh.. abah salah.. sangat.. sangat salah.. segera bertaubat bah.. ingat pada yang maha kuasa..”. kata kang bahlul.
“Apa maksud mu lul?”. Tanya abah yang di buat bingung oleh kang bahlul.
“Sebagai mana yang abah sampaikan tadi pagi, segala hal didunia ini adalah milik Allah, kita manusia hany di titipi. Nah termasuk jambu ini juga milik Allah, saya tadi sudah minta izin sama Allah. Kenapa abah marah-marah?”. Jawab kang bahlul.
“Astaghfirullah al-‘adzim..”. kata abah sambil menahan amarahnya. Ternyata kini dia termakan oleh tausiyah yang di sampaiaknya sendiri, meski cara penggunaanya kurang tepat. Tapi abah sadar, apa yang di sampaiakan oleh kang bahlul itu memang benar. Dan ahirnya abah diam dan meninggalkan kang bahlul dkk begitu saja tanpa sepatah kata pun.
Ternyata kediaman abah tersebut membuat kang bahlul dkk sangat senang. Mereka mengira kini abah tak akan berani lagi memarahi mereka. Dan pada malam berikutnya, mereka mngulangi hal yang sama, kali ini dengan lebih berani dan terang-terangan tanpa takut di marahi. Tapi baru saja saja kang bahlul memanjat, tiba-tiba punggungnya di pukul dengan sebuah tongkat rotan. Meski tidak besar, tapi “panasnya” tetap terasa. Ternyata abah memang sudah menunggu mereka dari tadi di situ, abah sengaja duduk di kegelapan agar mereka tidak tahu keberadaanya.
Tentu saja kang bahlul teriak karena merasa terkejut dan kesakitan.. ketika dia tahu yang memukul itu kyai mereka, dia pun bertanya dengan nada sedikit protes.
“Bah.. kenapa mukul punggung saya bah? Kan sakit bah,,”. Kata kang bahlul sambil meringis dan mengusap pungungnya yang “panas” itu.
“Siapa yang memukul punggung mu lul? Akau Cuma memukul punggung milik Allah. Karena semua hal di dunia ini milik Allah. Dan tadi aku juga sudah minta izin sama Allah. Dan aku tadi minta izin mau memukul punggung milik Allah ini berulang-ulang kalau tetap masih bandel..”. kata abah dengan santainya.

Mendengar perkataan abah, kang bahlul langsung turun dengan cepat dari pohon jambu. Dan segera lari bersama badrun dan kamso kembali ke komplek pondok. Kini kang bahlul sadar, bahwa menggunakan pengetahuan untuk hal yang tidak baik itu adalah kesalahan besar. Dan kini dia juga mulai menyadari, yang namanya guru pasti memiliki trik untuk mengalahkan kebandelan seorang murid. Setelah kejadian malam itu, kang bahlul dkk tak berani lagi coba-coba memetik jambu “milik Allah” di belakang rumah abah. Karena dia takut jika “punggung milik Allah” kembali di pukul pakai rotan. 
Share
Banner

Post A Comment:

0 comments: